Keutamaan Aqiqah: Pahami Manfaat & Hukumnya dalam Islam

March 22, 2026  |  Ibadah, Keluarga Muslim
Sheep Goat Sacrifice

Kelahiran seorang anak adalah anugerah terbesar dari Allah SWT, membawa kebahagiaan dan harapan baru bagi setiap keluarga. Dalam Islam, ada sebuah ibadah yang sangat dianjurkan untuk menyambut kelahiran buah hati, yaitu aqiqah.

Aqiqah bukan hanya sekadar tradisi, melainkan sebuah bentuk rasa syukur dan pengabdian kepada Sang Pencipta. Memahami keutamaan aqiqah akan membantu kita menyadari betapa pentingnya ibadah ini dalam memulai perjalanan hidup seorang anak dalam naungan Islam. Artikel ini akan mengupas tuntas tentang aqiqah, mulai dari definisi, hukum, keutamaan, tata cara, hingga hikmah di baliknya.

Mengenal Apa Itu Aqiqah

Baby Newborn Family
Foto oleh RDNE Stock project di Pexels

Definisi dan Makna Aqiqah

Secara bahasa, kata “aqiqah” berasal dari bahasa Arab yang berarti memotong. Dalam konteks syariat Islam, aqiqah adalah penyembelihan hewan (kambing atau domba) sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak, yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu setelah kelahirannya.

Makna aqiqah lebih dari sekadar penyembelihan hewan. Ia merupakan simbol pembebasan dan penebusan bagi anak yang baru lahir dari berbagai hal yang tidak diinginkan, serta doa agar anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan bertakwa. Ibadah ini juga menjadi sarana untuk menyebarkan kebahagiaan dan berbagi rezeki dengan sesama.

Dasar Hukum Aqiqah dalam Islam

Mayoritas ulama sepakat bahwa hukum melaksanakan aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini didasarkan pada banyak hadis Rasulullah SAW yang menganjurkan pelaksanaannya. Salah satu hadis yang masyhur adalah dari Salman bin Amir Adh-Dhabbi RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bersama anak laki-laki ada aqiqahnya, maka alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan darinya.” (HR. Bukhari).

Meskipun sunnah, namun pelaksanaannya memiliki nilai pahala yang besar dan dianggap sebagai bentuk penyempurnaan atas kelahiran seorang anak dalam keluarga Muslim. Aqiqah adalah tanggung jawab orang tua, namun jika orang tua tidak mampu, maka anak tersebut bisa mengakikahi dirinya sendiri setelah dewasa.

Baca Juga: Sunnah Aqiqah: Panduan Lengkap Tata Cara & Manfaatnya

Keutamaan Aqiqah yang Perlu Anda Ketahui

Sheep Goat Sacrifice
Foto oleh Any Lane di Pexels

Menjalankan Sunnah Rasulullah SAW

Salah satu keutamaan aqiqah yang paling utama adalah mengikuti dan menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Dengan melaksanakan aqiqah, kita menunjukkan ketaatan dan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan teladan dalam setiap aspek kehidupan. Mengikuti sunnah Nabi adalah jalan untuk mendapatkan keberkahan dan pahala dari Allah SWT.

Setiap sunnah yang kita ikuti memiliki hikmah dan manfaat tersendiri, dan aqiqah adalah salah satu sunnah yang sarat akan kebaikan. Melaksanakan aqiqah berarti kita turut menghidupkan syiar Islam dan meneladani praktik terbaik yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Tebusan untuk Anak dari Berbagai Musibah

Para ulama menjelaskan bahwa aqiqah berfungsi sebagai tebusan atau perlindungan bagi anak dari berbagai musibah, penyakit, atau hal-hal buruk lainnya. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (hewan) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Makna “tergadai” di sini diartikan bahwa anak tersebut akan mendapatkan perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT melalui pelaksanaan aqiqah. Ini adalah doa dan ikhtiar orang tua agar anaknya tumbuh sehat, selamat, dan jauh dari marabahaya, baik secara fisik maupun spiritual.

Wujud Syukur atas Karunia Allah SWT

Kelahiran anak adalah karunia terbesar dari Allah SWT yang tak ternilai harganya. Aqiqah adalah bentuk konkret dari rasa syukur kita atas anugerah tersebut. Dengan menyembelih hewan dan membagikan dagingnya, kita mengekspresikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Allah yang telah mempercayakan titipan berupa anak.

Rasa syukur ini akan menarik lebih banyak keberkahan dalam hidup, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Aqiqah menjadi pengingat bagi kita bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah dan patut disyukuri.

Mempererat Tali Silaturahmi

Proses aqiqah, yang biasanya melibatkan mengundang kerabat, tetangga, dan fakir miskin untuk menikmati hidangan daging aqiqah, secara otomatis akan mempererat tali silaturahmi. Ini adalah momen kebersamaan dan kebahagiaan yang dibagikan dengan orang-orang terdekat.

Melalui hidangan aqiqah, kita dapat berbagi rezeki dan kebahagiaan, menciptakan suasana kekeluargaan dan persaudaraan yang lebih erat. Ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan anggota keluarga baru kepada lingkungan sekitar, memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat Muslim.

Baca Juga: Persiapan Aqiqah Lengkap: Panduan Praktis untuk Orang Tua

Waktu Pelaksanaan Aqiqah yang Tepat

Calendar Clock Baby Age
Foto oleh Alexas Fotos di Pexels

Hari Ketujuh Kelahiran

Waktu yang paling utama dan sangat dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang telah disebutkan sebelumnya. Pada hari ini, disunnahkan pula untuk mencukur rambut bayi dan memberinya nama yang baik.

Melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh memiliki keutamaan tersendiri dan dianggap sebagai penyempurna ibadah. Jika hari ketujuh sulit dilakukan, maka hari ke-14 atau ke-21 juga menjadi pilihan yang baik, sebagaimana ada riwayat lain yang menganjurkan hal tersebut.

Penundaan Hingga Baligh

Apabila karena suatu alasan, seperti keterbatasan finansial, aqiqah tidak dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, ke-14, atau ke-21, maka aqiqah masih bisa dilakukan. Para ulama berpendapat bahwa aqiqah dapat ditunda hingga anak tersebut mencapai usia baligh.

Tanggung jawab aqiqah pada awalnya ada pada orang tua. Namun, jika orang tua tidak mampu melaksanakannya hingga anak baligh, maka anak tersebut memiliki pilihan untuk mengakikahi dirinya sendiri setelah baligh jika ia memiliki kemampuan finansial. Ini menunjukkan fleksibilitas dalam syariat Islam.

Hukum Aqiqah bagi Diri Sendiri Setelah Dewasa

Bagi seseorang yang saat kecil belum diaqiqahi oleh orang tuanya, ia disunnahkan untuk mengakikahi dirinya sendiri setelah dewasa. Ini adalah pendapat sebagian besar ulama, termasuk Imam Ahmad dan lainnya. Hal ini didasarkan pada hadis bahwa Rasulullah SAW juga mengakikahi dirinya sendiri setelah kenabian, meskipun ada perbedaan pendapat ulama mengenai kekuatan hadis ini.

Melaksanakan aqiqah diri sendiri setelah dewasa adalah bentuk kesadaran akan pentingnya ibadah ini dan keinginan untuk menyempurnakan sunnah yang mungkin terlewat di masa kecil. Ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk mendapatkan keutamaan aqiqah tidak tertutup meskipun telah dewasa.

Baca Juga: Hikmah Aqiqah: Memahami Makna dan Manfaatnya dalam Islam

Syarat Hewan Aqiqah dan Jumlahnya

Jenis Hewan yang Disyariatkan

Untuk pelaksanaan aqiqah, hewan yang disyariatkan adalah kambing atau domba. Tidak disyaratkan untuk menggunakan hewan lain seperti sapi atau unta, meskipun dalam konteks qurban hewan-hewan tersebut diperbolehkan. Pemilihan kambing atau domba ini didasarkan pada praktik Rasulullah SAW dan para sahabat.

Penting untuk memastikan bahwa hewan yang dipilih adalah hewan yang sehat dan memenuhi syarat syariat agar ibadah aqiqah diterima oleh Allah SWT. Memilih hewan yang baik juga merupakan bentuk penghormatan dan pengorbanan terbaik yang kita persembahkan.

Kriteria Hewan Aqiqah yang Sah

Hewan yang akan disembelih untuk aqiqah harus memenuhi kriteria tertentu agar sah dan diterima. Kriteria ini mirip dengan kriteria hewan qurban, antara lain:

  • Hewan harus sehat, tidak cacat (tidak buta, tidak pincang, tidak sakit parah, tidak terlalu kurus).
  • Hewan harus mencapai umur yang disyaratkan: kambing minimal berumur satu tahun dan masuk tahun kedua, atau domba minimal berumur enam bulan dan sudah tanggal giginya (jadz’ah).
  • Hewan harus milik sendiri atau sudah mendapatkan izin dari pemiliknya.

Memastikan kriteria ini terpenuhi adalah bagian penting dari pelaksanaan aqiqah yang sesuai syariat, menunjukkan kesungguhan kita dalam beribadah.

Jumlah Hewan Aqiqah untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

Dalam syariat Islam, jumlah hewan aqiqah dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan:

  • Untuk anak laki-laki, disunnahkan menyembelih dua ekor kambing atau domba.
  • Untuk anak perempuan, disunnahkan menyembelih satu ekor kambing atau domba.

Perbedaan jumlah ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW dan merupakan bagian dari syariat. Hikmah di balik perbedaan ini adalah bagian dari kebijaksanaan Allah SWT yang mungkin terkait dengan tanggung jawab laki-laki yang lebih besar dalam keluarga di kemudian hari, meskipun kedua-duanya memiliki keutamaan aqiqah yang sama.

Baca Juga: Manfaat Aqiqah: Keutamaan, Tata Cara, dan Hikmahnya Lengkap

Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah yang Benar

Niat dan Penyembelihan Hewan

Langkah pertama dalam pelaksanaan aqiqah adalah meniatkan ibadah ini semata-mata karena Allah SWT. Niat harus ikhlas dan ditujukan untuk bersyukur atas kelahiran anak serta mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Proses penyembelihan hewan harus dilakukan sesuai syariat Islam, yaitu dengan menyebut nama Allah (Bismillah) dan takbir (Allahu Akbar).

Orang tua atau wakilnya dapat menyembelih hewan tersebut. Penting untuk memastikan proses penyembelihan dilakukan oleh orang yang memahami syariat dan tata cara penyembelihan hewan secara Islam.

Memasak Daging Aqiqah

Berbeda dengan daging qurban yang disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah, daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Hal ini berdasarkan praktik Rasulullah SAW yang memasak daging aqiqah dan membagikannya kepada tetangga dan fakir miskin dalam bentuk hidangan.

Memasak daging aqiqah juga memiliki hikmah untuk memudahkan penerima dalam mengonsumsinya dan menyebarkan kebahagiaan dalam bentuk hidangan yang siap santap. Ini juga bisa menjadi momen untuk mengundang kerabat dan tetangga untuk makan bersama.

Pendistribusian Daging Aqiqah

Setelah dimasak, daging aqiqah kemudian didistribusikan. Pembagiannya tidak memiliki aturan baku yang sangat ketat seperti qurban, namun umumnya dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Sepertiga untuk keluarga yang melaksanakan aqiqah (orang tua dan anak).
  2. Sepertiga untuk tetangga dan kerabat.
  3. Sepertiga untuk fakir miskin dan yang membutuhkan.

Tujuan utama pendistribusian ini adalah untuk berbagi kebahagiaan dan rezeki, serta mempererat tali silaturahmi. Semua kalangan berhak menikmati hidangan aqiqah, termasuk orang tua yang beraqiqah.

Baca Juga: Tata Cara Aqiqah Lengkap: Panduan Praktis untuk Orang Tua Muslim

Hikmah dan Pesan Moral dari Aqiqah

Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini

Pelaksanaan aqiqah secara tidak langsung memberikan pendidikan karakter kepada anak sejak dini, meskipun ia belum menyadarinya. Aqiqah adalah pengenalan pertama anak terhadap nilai-nilai keagamaan dan rasa syukur.

Dengan diaqiqahi, anak seolah-olah telah dimulai hidupnya dengan ibadah dan dikaitkan dengan sunnah Rasulullah SAW. Ini adalah fondasi spiritual yang kuat bagi pertumbuhannya, mengajarkan pentingnya ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Meningkatkan Kepedulian Sosial

Proses pendistribusian daging aqiqah, terutama kepada fakir miskin dan yang membutuhkan, secara otomatis meningkatkan kepedulian sosial dalam masyarakat. Ini adalah bentuk nyata dari ajaran Islam untuk saling berbagi dan membantu sesama.

Melalui aqiqah, kita diajarkan untuk tidak hanya menikmati kebahagiaan sendiri, tetapi juga untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain, terutama mereka yang kurang beruntung. Ini menumbuhkan empati dan solidaritas sosial yang kuat.

Membentuk Keluarga yang Bertakwa

Melaksanakan aqiqah adalah salah satu langkah awal dalam membentuk keluarga yang bertakwa. Dengan memulai kehidupan anak dengan ibadah yang disyariatkan, orang tua menunjukkan komitmen mereka untuk mendidik anak dalam ajaran Islam.

Keluarga yang senantiasa menjalankan sunnah Rasulullah SAW akan senantiasa diberkahi oleh Allah SWT. Aqiqah menjadi salah satu fondasi spiritual yang kokoh, membantu menciptakan lingkungan keluarga yang penuh berkah dan rahmat.

Baca Juga: Kambing Aqiqah: Panduan Lengkap Memilih dan Melaksanakan

Perbedaan Aqiqah dengan Qurban

Tujuan dan Waktu Pelaksanaan

Meskipun sama-sama melibatkan penyembelihan hewan, aqiqah dan qurban memiliki tujuan serta waktu pelaksanaan yang berbeda. Aqiqah dilaksanakan sebagai wujud syukur atas kelahiran anak dan waktu utamanya adalah hari ketujuh setelah kelahiran.

Sementara itu, qurban dilaksanakan pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik (10, 11, 12, 13 Dzulhijjah) dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Tujuan dan momentum kedua ibadah ini sangat jelas berbeda.

Hukum dan Distribusi Daging

Hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, dan disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Daging aqiqah boleh dimakan oleh keluarga yang beraqiqah.

Adapun hukum qurban juga sunnah muakkadah (menurut mayoritas ulama, ada yang mewajibkan), dan disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah. Daging qurban juga boleh dimakan oleh yang berqurban, namun distribusi yang mentah lebih utama untuk memudahkan penerima mengolahnya sesuai selera.

Kesimpulan

Aqiqah adalah ibadah yang memiliki banyak keutamaan aqiqah dan hikmah mendalam dalam Islam. Ia bukan hanya sekadar perayaan atas kelahiran anak, melainkan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, menjalankan sunnah Rasulullah SAW, serta upaya untuk memohon perlindungan dan keberkahan bagi sang buah hati.

Dengan memahami hukum, tata cara, dan hikmah di baliknya, kita diharapkan dapat melaksanakan ibadah aqiqah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ibadah ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kepedulian sosial dalam masyarakat.

Mari kita laksanakan aqiqah bagi anak-anak kita sebagai wujud cinta dan tanggung jawab kita sebagai orang tua Muslim, demi kebaikan dunia dan akhirat mereka.

FAQ

Tidak, hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun tidak wajib, pelaksanaannya memiliki pahala besar dan banyak keutamaan.

Jika orang tua tidak mampu secara finansial, tidak ada dosa bagi mereka. Aqiqah dapat ditunda hingga orang tua mampu, atau anak tersebut dapat mengakikahi dirinya sendiri setelah mencapai usia baligh jika ia memiliki kemampuan.

Disunnahkan untuk memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum dibagikan, berbeda dengan daging qurban yang lebih utama dibagikan mentah. Hal ini berdasarkan praktik Rasulullah SAW.

Menurut mayoritas ulama, tidak diperbolehkan menggabungkan niat aqiqah dengan qurban dalam satu hewan. Kedua ibadah ini memiliki tujuan dan waktu pelaksanaan yang berbeda, sehingga harus dilaksanakan secara terpisah.

Daging aqiqah dapat dimakan oleh keluarga yang beraqiqah, tetangga, kerabat, dan fakir miskin. Pembagiannya bersifat fleksibel, namun disarankan untuk berbagi secara adil.

Tags: , , , ,

Rencanakan Aqiqah Terbaik untuk Buah Hati

MAU AQIQAH siap membantu Anda melaksanakan syariat dengan praktis, masakan lezat, dan diantar gratis sampai depan rumah.

Tanya Paket Aqiqah
Butuh Bantuan? Silahkan Hubungi kami