Kelahiran seorang anak adalah anugerah terbesar dari Allah SWT yang patut disyukuri. Dalam ajaran Islam, salah satu bentuk syukur dan penghormatan atas kelahiran buah hati adalah dengan melaksanakan ibadah aqiqah. Aqiqah bukan hanya sekadar tradisi, melainkan sunnah Nabi Muhammad SAW yang memiliki banyak hikmah dan keutamaan.
Pelaksanaan aqiqah melibatkan serangkaian proses, mulai dari penyembelihan hewan hingga pencukuran rambut bayi, yang kesemuanya diiringi dengan doa-doa khusus. Memahami dan melafalkan doa aqiqah dengan benar adalah kunci untuk menyempurnakan ibadah ini. Artikel ini akan memandu Anda secara lengkap mengenai makna aqiqah, tata cara pelaksanaannya, hingga kumpulan doa aqiqah yang sesuai sunnah.
Memahami Makna Aqiqah dalam Islam

Apa Itu Aqiqah?
Aqiqah secara bahasa berarti “memutus” atau “memotong”, merujuk pada pemotongan rambut bayi yang baru lahir. Namun, dalam konteks syariat Islam, aqiqah adalah penyembelihan hewan (kambing atau domba) sebagai bentuk syukur atas kelahiran seorang anak, yang dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahirannya.
Ibadah ini merupakan bentuk tasyakur (rasa syukur) kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan keturunan. Daging sembelihan aqiqah kemudian dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga, sebagai wujud berbagi kebahagiaan dan kepedulian sosial.
Dalil dan Dasar Hukum Aqiqah
Dasar hukum pelaksanaan aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Banyak hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang aqiqah, salah satunya dari Salman bin Amir Adh-Dhabbi, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah darah untuknya dan singkirkanlah kotoran darinya.” (HR. Bukhari).
Hadis lain dari Aisyah RA juga menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyembelih dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Dalil-dalil ini menegaskan pentingnya aqiqah dalam Islam sebagai bentuk ketaatan kepada ajaran Nabi SAW.
Perbedaan Aqiqah dan Qurban
Meskipun sama-sama melibatkan penyembelihan hewan, aqiqah dan qurban memiliki perbedaan mendasar. Qurban adalah ibadah yang dilakukan pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan mengenang kisah Nabi Ibrahim AS. Hukumnya sunnah muakkadah bagi yang mampu.
Sementara itu, aqiqah adalah syukuran atas kelahiran anak dan memiliki waktu pelaksanaan yang spesifik, yaitu pada hari ketujuh, keempat belas, atau kedua puluh satu setelah kelahiran. Daging qurban disunnahkan untuk dibagikan mentah, sedangkan daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan.
Baca Juga: Tata Cara Aqiqah Lengkap: Panduan Praktis untuk Orang Tua Muslim
Hukum dan Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Hukum Melaksanakan Aqiqah
Sebagaimana telah disebutkan, hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah bagi orang tua atau wali yang mampu. Artinya, sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Jika seseorang memiliki kemampuan finansial namun tidak melaksanakan aqiqah, ia tidak berdosa, namun kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari ibadah ini.
Bagi orang tua yang kurang mampu secara finansial, tidak ada kewajiban memberatkan untuk melaksanakan aqiqah. Islam adalah agama yang memudahkan, dan tidak membebani umatnya di luar kemampuannya.
Waktu Terbaik Pelaksanaan Aqiqah
Waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Jika tidak memungkinkan, bisa ditunda pada hari keempat belas, atau hari kedua puluh satu. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW.
- Hari ke-7: Waktu paling utama dan dianjurkan. Pada hari ini, bayi juga disunnahkan untuk diberi nama dan dicukur rambutnya.
- Hari ke-14: Jika tidak bisa pada hari ke-7, maka hari ke-14 menjadi pilihan berikutnya.
- Hari ke-21: Jika masih belum memungkinkan, hari ke-21 adalah waktu yang masih dianjurkan.
Para ulama juga membolehkan pelaksanaan aqiqah setelah waktu-waktu tersebut, bahkan hingga anak dewasa, namun pahalanya tidak sesempurna jika dilaksanakan pada waktu yang dianjurkan.
Bolehkah Aqiqah Dilaksanakan Setelah Dewasa?
Ya, aqiqah masih boleh dilaksanakan meskipun anak sudah dewasa, bahkan oleh dirinya sendiri jika orang tuanya belum sempat mengaqiqahinya. Beberapa ulama berpendapat bahwa jika orang tua belum mampu melaksanakannya hingga anak dewasa, maka anak tersebut boleh mengaqiqahi dirinya sendiri.
Namun, perlu diingat bahwa keutamaan dan kesempurnaan ibadah aqiqah terletak pada pelaksanaannya di masa kanak-kanak, sesuai dengan sunnah Nabi SAW. Meskipun demikian, melakukannya di kemudian hari tetap merupakan kebaikan dan bentuk penghidupan sunnah.
Baca Juga: Panduan Lengkap Pembagian Daging Aqiqah Sesuai Syariat
Persiapan Penting Sebelum Pelaksanaan Aqiqah

Memilih Hewan Aqiqah yang Sesuai Syariat
Hewan yang digunakan untuk aqiqah adalah kambing atau domba. Jumlahnya berbeda antara bayi laki-laki dan perempuan:
- Untuk bayi laki-laki: dua ekor kambing/domba.
- Untuk bayi perempuan: satu ekor kambing/domba.
Hewan aqiqah harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu sehat, tidak cacat, dan telah mencapai usia minimal (umumnya 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing). Memilih hewan yang baik adalah bentuk penghormatan dan pengabdian dalam beribadah.
Menentukan Waktu dan Lokasi
Setelah memilih hewan, langkah selanjutnya adalah menentukan waktu pelaksanaan yang tepat sesuai dengan hari yang dianjurkan (ke-7, ke-14, atau ke-21). Lokasi penyembelihan bisa di rumah, tempat pemotongan hewan, atau di tempat jasa aqiqah.
Penting untuk memastikan bahwa lokasi tersebut bersih, memenuhi standar kebersihan, dan nyaman jika ada tamu yang hadir. Pertimbangkan juga logistik untuk memasak dan mendistribusikan daging aqiqah.
Menyiapkan Perlengkapan dan Tamu
Persiapan lain meliputi:
- Menyiapkan perlengkapan untuk pencukuran rambut bayi (jika dilakukan bersamaan).
- Mengundang kerabat, tetangga, dan fakir miskin untuk menghadiri acara dan menerima hidangan atau daging aqiqah.
- Menyiapkan hidangan dari daging aqiqah yang telah dimasak.
Acara aqiqah bisa diselenggarakan secara sederhana dengan hanya membagikan masakan, atau dengan mengundang tamu untuk makan bersama sebagai bentuk syukuran.
Baca Juga: Sunnah Aqiqah: Panduan Lengkap Tata Cara & Manfaatnya
Doa Aqiqah Saat Menyembelih Hewan
Niat Menyembelih Hewan Aqiqah
Sebelum menyembelih hewan aqiqah, niat adalah hal yang paling utama. Niat ini diucapkan dalam hati, bahwa penyembelihan ini dilakukan semata-mata karena Allah SWT sebagai bentuk aqiqah untuk anak yang baru lahir.
Meskipun niat di hati sudah cukup, melafalkan niat secara lisan juga dianjurkan untuk menguatkan tekad. Niat ini harus jelas, misalnya: “Saya niat menyembelih hewan ini sebagai aqiqah untuk anak saya (sebutkan nama anak) karena Allah Ta’ala.”
Lafaz Doa Sebelum Penyembelihan
Saat akan menyembelih hewan aqiqah, disunnahkan membaca basmalah, takbir, dan doa berikut:
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَإِلَيْكَ، هَذِهِ عَقِيقَةُ (فُلَانٍ)
Arab-Latin: Bismillah wallahu akbar. Allahumma minka wa ilaika. Hadzihi ‘aqiqatu (fulan).
Artinya: “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, dari-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah (sebutkan nama anak).”
Doa ini dibaca saat hendak menyembelih. Lafaz “fulan” diganti dengan nama anak yang diaqiqahi. Misalnya, jika nama anaknya Muhammad, maka menjadi “Hadzihi ‘aqiqatu Muhammad.”
Tata Cara Penyembelihan yang Benar
Penyembelihan hewan aqiqah harus dilakukan sesuai syariat Islam. Berikut adalah poin-poin pentingnya:
- Menghadap kiblat saat menyembelih.
- Menggunakan pisau yang tajam agar hewan tidak tersiksa.
- Memotong tiga saluran utama: saluran pernapasan (tenggorokan), saluran makanan (kerongkongan), dan dua urat nadi di leher.
- Memastikan hewan benar-benar mati sebelum dikuliti atau dipotong.
Proses ini harus dilakukan oleh orang yang memahami syariat penyembelihan hewan dalam Islam.
Baca Juga: Rukun Aqiqah: Panduan Lengkap Tata Cara dan Syaratnya
Doa Aqiqah untuk Bayi Laki-laki dan Perempuan
Doa untuk Bayi Laki-laki
Setelah proses penyembelihan selesai, orang tua dianjurkan untuk memanjatkan doa-doa kebaikan untuk anak yang diaqiqahi. Untuk bayi laki-laki, doa yang bisa dipanjatkan adalah:
اللَّهُمَّ هَذِهِ عَقِيقَةُ (اسْمُ الْوَلَدِ) دَمُهَا بِدَمِهِ وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهِ وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهِ وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهِ وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهِ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا فِدَاءً لَهُ مِنَ النَّارِ وَتَقَبَّلْهَا مِنْهُ
Arab-Latin: Allahumma hadzihi ‘aqiqatu (nama anak laki-laki) damuha bidamihi, wa lahmuha bilahmihi, wa ‘azhmuha bi’azhmihi, wa jilduha bijildihi, wa sya’ruha bisya’rihi. Allahummaj’alha fida’an lahu minannar, wa taqabbalha minhu.
Artinya: “Ya Allah, ini adalah aqiqah (nama anak laki-laki), darahnya dengan darahnya, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya, kulitnya dengan kulitnya, rambutnya dengan rambutnya. Ya Allah, jadikanlah ia tebusan baginya dari api neraka dan terimalah darinya.”
Doa untuk Bayi Perempuan
Untuk bayi perempuan, doa yang dipanjatkan memiliki lafaz yang serupa, namun disesuaikan dengan gender anak:
اللَّهُمَّ هَذِهِ عَقِيقَةُ (اسْمُ الْبِنْتِ) دَمُهَا بِدَمِهَا وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهَا وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهَا وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهَا وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهَا اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا فِدَاءً لَهَا مِنَ النَّارِ وَتَقَبَّلْهَا مِنْهَا
Arab-Latin: Allahumma hadzihi ‘aqiqatu (nama anak perempuan) damuha bidamiha, wa lahmuha bilahmiha, wa ‘azhmuha bi’azhmiha, wa jilduha bijildiha, wa sya’ruha bisya’riha. Allahummaj’alha fida’an laha minannar, wa taqabbalha minha.
Artinya: “Ya Allah, ini adalah aqiqah (nama anak perempuan), darahnya dengan darahnya, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya, kulitnya dengan kulitnya, rambutnya dengan rambutnya. Ya Allah, jadikanlah ia tebusan baginya dari api neraka dan terimalah darinya.”
Pentingnya Mendoakan Keberkahan Bayi
Selain doa khusus aqiqah, orang tua juga sangat dianjurkan untuk senantiasa mendoakan anak-anaknya agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh/salehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Doa adalah senjata utama orang tua, dan momen aqiqah adalah waktu yang baik untuk memanjatkan doa-doa terbaik.
Mendoakan keberkahan pada setiap tahapan kehidupan anak adalah wujud kasih sayang dan tanggung jawab orang tua. Doa aqiqah menjadi salah satu fondasi spiritual yang diberikan orang tua kepada anaknya sejak dini.
Baca Juga: Manfaat Aqiqah: Keutamaan, Tata Cara, dan Hikmahnya Lengkap
Doa Aqiqah Saat Pencukuran Rambut Bayi
Makna Pencukuran Rambut dalam Aqiqah
Salah satu sunnah yang menyertai pelaksanaan aqiqah adalah mencukur rambut bayi. Mencukur rambut bayi ini bukan sekadar tradisi, melainkan memiliki makna simbolis. Rambut bayi yang baru lahir dianggap membawa kotoran dan kelemahan dari masa dalam kandungan.
Dengan mencukurnya, diharapkan bayi tumbuh bersih, sehat, dan terhindar dari segala keburukan. Setelah dicukur, rambut tersebut ditimbang dan disedekahkan perak seberat timbangan rambut tersebut. Ini adalah bentuk sedekah yang dianjurkan.
Lafaz Doa Saat Mencukur Rambut
Saat mencukur rambut bayi, disunnahkan untuk membaca doa. Berikut adalah salah satu lafaz doa aqiqah saat mencukur rambut:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ نُوْرُ رُئُوْسِهِمْ وَأَبْدَانِهِمْ وَاجْعَلْهُمْ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً صَالِحَةً مُبَارَكَةً
Arab-Latin: Bismillahir rahmanir rahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma nur ru’usihim wa abdanihim waj’alhum dzurriyyatan thayyibatan shalihatan mubarokatan.
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, terangilah kepala dan badan mereka, dan jadikanlah mereka keturunan yang baik, saleh/salehah, lagi diberkahi.”
Hikmah di Balik Pencukuran Rambut
Ada beberapa hikmah di balik sunnah mencukur rambut bayi saat aqiqah:
- Kebersihan: Menjaga kebersihan dan kesehatan bayi sejak dini.
- Simbolis: Melepaskan “kotoran” atau hal-hal yang tidak baik dari masa kandungan.
- Sedekah: Mengajarkan pentingnya sedekah dengan menimbang rambut dan bersedekah perak seberatnya.
- Perlindungan: Beberapa ulama juga menafsirkannya sebagai bentuk perlindungan dari penyakit dan bala.
Keseluruhan proses ini adalah bagian integral dari aqiqah yang membawa berkah.
Baca Juga: Kambing Aqiqah: Panduan Lengkap Memilih dan Melaksanakan
Doa Aqiqah Setelah Selesai Acara
Doa Penutup Acara Aqiqah
Setelah seluruh rangkaian acara aqiqah, termasuk penyembelihan, memasak, dan pembagian daging/hidangan, selesai dilaksanakan, disunnahkan untuk membaca doa penutup sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas kelancaran dan keberkahan acara.
Doa ini bisa dipimpin oleh orang tua atau salah satu tokoh agama yang hadir. Intinya adalah memohon penerimaan amal ibadah, keberkahan bagi keluarga, dan kebaikan bagi anak yang diaqiqahi.
Doa untuk Keluarga dan Tamu
Dalam kesempatan ini, juga baik untuk mendoakan seluruh keluarga yang hadir, tamu undangan, serta semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara. Doa yang bisa dipanjatkan meliputi:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذِهِ الْعَقِيقَةَ بَرَكَةً لَنَا وَلِأَوْلَادِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ وَتَقَبَّلْهَا مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Arab-Latin: Allahummaj’al hadzihil ‘aqiqah barokatan lana wali auladina walil muslimina ajma’in, wa taqabbalha minna innaka antas sami’ul ‘alim.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aqiqah ini berkah bagi kami, bagi anak-anak kami, dan bagi seluruh umat Islam. Dan terimalah ia dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Bersyukur Atas Kelancaran Acara
Rasa syukur adalah kunci utama dalam setiap ibadah. Menyelesaikan acara aqiqah dengan doa penutup adalah cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas segala kemudahan dan kelancaran yang diberikan. Ini juga menjadi pengingat bahwa segala kebaikan datang dari-Nya.
Keberhasilan pelaksanaan aqiqah adalah anugerah, dan dengan bersyukur, kita berharap Allah SWT akan terus melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada keluarga kita, khususnya kepada anak yang baru lahir.
Baca Juga: Keutamaan Aqiqah: Pahami Manfaat & Hukumnya dalam Islam
Hikmah dan Keutamaan Melaksanakan Aqiqah
Menghidupkan Sunnah Nabi SAW
Melaksanakan aqiqah adalah bentuk ketaatan dan penghidupan kembali sunnah Nabi Muhammad SAW. Dengan mengikuti jejak beliau, kita berharap mendapatkan syafaat dan pahala di sisi Allah SWT. Setiap amalan yang sesuai dengan ajaran Nabi membawa keberkahan tersendiri.
Sunnah ini menunjukkan betapa pentingnya menyambut kelahiran seorang anak dengan penuh rasa syukur dan ibadah, bukan hanya sekadar perayaan duniawi.
Bentuk Rasa Syukur Kepada Allah SWT
Kelahiran anak adalah rezeki dan amanah besar dari Allah SWT. Aqiqah adalah wujud nyata dari rasa syukur orang tua atas karunia tersebut. Dengan bersyukur, Allah berjanji akan menambah nikmat-Nya. Rasa syukur ini juga tercermin dalam niat dan doa aqiqah yang tulus.
Melalui aqiqah, orang tua menunjukkan bahwa mereka mengakui kekuasaan Allah dan menyerahkan sepenuhnya anak mereka dalam lindungan-Nya.
Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT dan Masyarakat
Aqiqah tidak hanya mendekatkan individu kepada Allah SWT melalui ibadah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dengan sesama. Pembagian daging aqiqah kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga adalah bentuk kepedulian sosial dan berbagi kebahagiaan.
Ini menciptakan suasana kebersamaan dan keberkahan di tengah masyarakat, sekaligus memperkenalkan anggota keluarga baru kepada lingkungan sekitar dengan cara yang Islami dan penuh berkah.
Baca Juga: Hikmah Aqiqah: Memahami Makna dan Manfaatnya dalam Islam
Tips Praktis Pelaksanaan Aqiqah yang Berkah
Perencanaan Anggaran yang Matang
Meskipun aqiqah adalah sunnah, perencanaan anggaran yang matang sangat penting agar tidak memberatkan. Hitung biaya untuk hewan aqiqah, jasa penyembelihan (jika menggunakan), bumbu masakan, dan keperluan lainnya. Anda bisa menabung sejak masa kehamilan atau mencari jasa aqiqah yang sesuai dengan budget.
Ingatlah bahwa kesederhanaan adalah inti dari ajaran Islam. Fokus pada esensi ibadah, bukan kemewahan acara.
Memilih Jasa Aqiqah Terpercaya (Opsional)
Bagi orang tua yang sibuk atau kurang memiliki waktu, menggunakan jasa aqiqah yang terpercaya bisa menjadi solusi praktis. Pastikan jasa tersebut:
- Memiliki reputasi baik dan pengalaman.
- Menyediakan hewan aqiqah yang sesuai syariat.
- Menawarkan paket yang transparan dan harga bersaing.
- Menjamin proses penyembelihan sesuai syariat Islam dan mendokumentasikannya jika diperlukan.
- Mampu mengolah dan mendistribusikan daging sesuai keinginan Anda.
Menggunakan jasa profesional dapat membantu memastikan seluruh proses berjalan lancar dan sesuai syariat.
Fokus pada Esensi Ibadah
Terakhir dan terpenting, selalu fokus pada esensi ibadah aqiqah itu sendiri, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT dan penghidupan sunnah Nabi. Hindari berlebihan dalam perayaan yang bisa mengarah pada riya’ atau pemborosan.
Pastikan setiap langkah, termasuk melafalkan doa aqiqah, dilakukan dengan niat yang ikhlas. Keberkahan aqiqah terletak pada keikhlasan hati dan ketaatan dalam mengikuti tuntunan agama.
Kesimpulan
Aqiqah adalah ibadah yang mulia dan penuh hikmah, merupakan bentuk syukur atas kelahiran anak serta penghidupan sunnah Nabi Muhammad SAW. Memahami tata cara dan melafalkan doa aqiqah dengan benar adalah bagian integral dari pelaksanaan ibadah ini. Mulai dari niat tulus, doa saat menyembelih hewan, doa untuk bayi laki-laki atau perempuan, hingga doa saat pencukuran rambut, setiap langkah memiliki makna mendalam.
Pelaksanaan aqiqah tidak hanya mendatangkan pahala bagi orang tua, tetapi juga membawa keberkahan bagi anak yang diaqiqahi dan mempererat tali silaturahmi di antara sesama. Dengan perencanaan yang matang dan fokus pada esensi ibadah, aqiqah dapat dilaksanakan dengan lancar dan penuh keberkahan.
Semoga panduan ini membantu Anda dalam melaksanakan aqiqah untuk buah hati tercinta. Ingatlah, yang terpenting adalah keikhlasan dalam beribadah dan memohon ridha Allah SWT.
FAQ
Tidak, aqiqah tidak bisa diganti dengan uang. Aqiqah adalah ibadah penyembelihan hewan (kambing atau domba) sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Menggantinya dengan uang tidak sesuai dengan syariat aqiqah.
Jika belum mampu secara finansial, tidak ada kewajiban untuk melaksanakan aqiqah. Islam adalah agama yang memudahkan dan tidak membebani umatnya. Anda bisa menunda pelaksanaannya jika suatu saat nanti memiliki kemampuan, atau anak tersebut bisa mengaqiqahi dirinya sendiri saat dewasa.
Ya, daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu, kemudian boleh dimakan oleh keluarga yang mengaqiqahi, dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga. Berbeda dengan daging qurban yang disunnahkan dibagikan mentah.
Untuk anak kembar, jumlah kambing dihitung per individu. Jika kembar laki-laki dan perempuan, maka dua ekor kambing untuk yang laki-laki dan satu ekor kambing untuk yang perempuan. Jika keduanya laki-laki, maka empat ekor kambing, dan jika keduanya perempuan, maka dua ekor kambing.
Memberi nama bayi pada hari ketujuh bersamaan dengan aqiqah dan pencukuran rambut adalah sunnah Nabi Muhammad SAW. Namun, jika sudah diberi nama sebelumnya, itu juga tidak masalah. Yang terpenting adalah memberikan nama yang baik dan memiliki makna positif.
